Pabrik Plasma Darah Senilai Rp4 Triliun akan Dibangun di Karawang

Pabrik Plasma Darah Senilai Rp4 Triliun akan Dibangun di Karawang
Ki-ka Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka dalam konferensi pers terkait Building Regional and Global Health Resilience in Asean: Vaccine Manufacturing and Pandemic Preparedness and Response (PPR) di kantor DEN, Rabu (24/6/2026)/Bisnis-Annasa Rizki Kamalina.

Utarakini.com, JAKARTA — Pabrik plasma darah akan dibangun di Karawang, Jawa Barat. Ditargetkan operasional pabrik dengan investasi Rp4 triliun itu rampung pada 2027.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan proyek plasma darah ini merupakan kerja sama antara SK Plasma dan Indonesia Investment Authority (INA) dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun.

Fasilitas ini nantinya bukan hanya diposisikan sebagai capaian kapasitas produksi, melainkan sebagai titik balik transformasi industri kesehatan nasional dari ketergantungan impor menuju kemandirian bahan obat bernilai tinggi.

Budi menilai fasilitas ini merupakan fondasi awal hilirisasi darah yang selama ini belum terbangun di dalam negeri.

Adapun kebutuhan terhadap produk turunannya seperti albumin, immunoglobulin (IVIG), hingga faktor pembekuan darah, disebut terus meningkat setiap tahun dan sebagian besar masih dipenuhi dari luar negeri.

“Kita belanja, kita beli, tapi impor semua. Padahal darahnya kan sumber daya nomor 4 terbesar dunia kan Indonesia, karena populasinya besar,” ujarnya usai forum Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN: Vaccine Manufacturing and Pandemic Preparedness and Response (PPR), Rabu (24/6/2026).

Kapasitas 600.000 Liter

Budi menargetkan fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi pada awal 2027 dengan kapasitas produksi hingga 600.000 liter per tahun, setelah memperoleh seluruh perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Tinggal nunggu izinnya mudah-mudahan 2027 bisa produksi 600.000 liter per hari, kita nggak usah impor lagi,” sebut Budi.

Oleh karena itu, dia meminta agar proses administrasi dapat dipercepat agar produksi bisa segera dimulai.

“Sekarang saya minta itu BPOM jangan lama-lama approval-nya. Jadi mereka sudah siap produksi, sudah jadi pabriknya,” sambung Budi. 

Dengan beroperasinya pabrik plasma darah tersebut nanti, Budi menyebut ketergantungan tinggi Indonesia terhadap produk immunoglobulin bisa direduksi. 

Indonesia saat menghadapi Covid-19, tidak mendapatkan akses Gammaraas atau obat golongan Intravenous Immunoglobulin (IVIG) yang berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Obat tersebut kata Budi harganya mencapai ratusan juta rupiah.

“Itu nama generiknya immunoglobulin. Ini produksi dari plasma, plasma dari darah. Padahal Indonesia darahnya banyak sekali. Cuma nggak bisa bikin immunoglobulin. Kita impor dari China. Nah itu sekarang kita sudah bisa bikin tahun depan,” pungkasnya. 

Berita ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul Menkes Targetkan Pabrik Plasma Darah Senilai Rp4 Triliun Beroperasi Pada 2027

Leave a Reply