Utarakini.com, KLATEN — Sebanyak 160 keluarga atau sekitar 500 warga di Dukuh Tugurejo, Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, mengalami krisis air bersih. Kondisi itu terjadi selama 1,5 bulan terakhir.
Penyebabnya, debit tiga sumur Pamsimas yang menjadi andalan warga menurun drastis seiring musim kemarau. Warga mengandalkan air bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama untuk konsumsi.
Bantuan air didistribusikan ke penampungan sementara berupa bak-bak yang dibuat dari terpal. Kapasitas bak sementara tersebut terbatas sehingga warga harus mengambil air menggunakan ember maupun galon.
Setidaknya ada tujuh bak sementara yang dibangun secara swadaya oleh warga menggunakan terpal. Dukuh Tugurejo berada di lereng perbukitan.
Salah satu warga, Juminten, 76, mengungkapkan warga mengandalkan sumur Pamsimas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, sekitar 1,5 bulan terakhir, aliran air Pamsimas menurun drastis.
“Sumbernya habis, tinggal sedikit dibagi banyak orang. Alirannya dibuat bergilir dengan giliran setiap tiga hari sekali,” kata Juminten saat ditemui di rumahnya, Jumat (18/9/2026) siang.
Air bantuan menjadi andalan utama warga. Juminten rutin mengambil air dari bak penampungan sementara yang berada di dekat rumahnya. “Biasanya untuk minum dan mandi,” kata Juminten.
500 Jiwa Kesulitan Air Bersih
Ketua RW 02 Dukuh Tugurejo, Sumadi, menjelaskan jumlah total warga di wilayah tersebut mencapai 160 keluarga atau sekitar 500 jiwa yang tinggal di tiga RT. Warga di satu wilayah RW itu mengalami kesulitan air bersih selama sebulan terakhir.
“Persediaan air bersih di sini memang tidak seperti tahun yang dulu, ini lebih parah karena sumber airnya kami menggunakan Pamsimas, tetapi kondisi debitnya sudah kurang, tidak mencukupi. Terkait kekurangan air bersih ini kami sudah konsultasi dengan Pak Kepala Desa dan sepertinya berkepanjangan sampai musim hujan datang. Solusinya, kami diberikan bantuan air bersih,” kata Sumadi.
Sumadi mengungkapkan bantuan air bersih datang dari berbagai pihak, yakni BPBD, PMI, serta pihak swasta maupun individu.
“Kami juga istilahnya memperbaiki sumur-sumur Pamsimas itu ya tetap masih kurang. Untuk itu kami mengharapkan solusinya yang bagus supaya di musim kemarau yang diprediksi sampai Desember ini, kebutuhan air warga tercukupi,” kata Sumadi.
Sumadi mengungkapkan bantuan air bersih untuk sementara ditempatkan pada bak yang terbuat dari terpal. Dia mengakui bak tersebut hanya mampu menampung air dalam kapasitas terbatas.
Ketika banyak bantuan air datang, warga kebingungan menempatkan air agar dapat memudahkan warga mengambilnya. Sumadi berharap ada bak tandon berkapasitas cukup besar untuk menampung air bantuan yang berdatangan.
Sumadi menjelaskan warga berhemat dalam menggunakan air bersih. Air bantuan diutamakan untuk konsumsi.
Untuk mencuci, warga membawa pakaian yang hendak dibersihkan ke sendang terdekat. Ada satu sendang terdekat yang berjarak sekitar 2 kilometer. Selain itu, warga mencuci ke wilayah Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk.
Sumadi menjelaskan mayoritas warga di kampungnya bekerja merantau ke luar kota, di antaranya sebagai pedagang es puter. Kebanyakan warga yang sehari-hari tinggal di kampung tersebut merupakan kaum perempuan, lansia, serta anak-anak.
Desa Wiro menjadi salah satu desa yang mendapatkan bantuan air bersih dari Pemkab melalui BPBD Klaten lantaran terdampak kekeringan. Jumlah total air bersih yang didistribusikan ke desa tersebut hingga Jumat (18/9/2026) sebanyak 21 tangki.

Leave a Reply