Utarakini.com, JAKARTA — Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyebut tingkat menabung masyarakat Indonesia masih rendah. Bahkan tingkat menabung masyarakat Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara di Asia lainnya.
Anggito Abimanyu menyampaikan, rasio dana pihak ketiga (DPK) terhadap produk domestik bruto (PDB) baru sekitar 42,2% per Desember 2025. Angka itu bahkan lebih rendah dibandingkan dengan negara Asia lainnya, meski dia tidak mengungkapkan secara spesifik negara mana yang dimaksud.
“Kita memiliki tantangan yang lebih mendasar. Rasio tabungan kita baru sekitar 42%, terendah di antara peers country. Angka ini lebih rendah dibandingkan banyak negara Asia,” kata Anggito dalam Seminar Nasional dan Pelantikan ISEI Jakarta di Perbanas Institute Kampus Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Dalam paparan yang disampaikan Anggito, hingga Desember 2025 total DPK bank umum dan BPR/BPRS di Indonesia mencapai Rp10.057 triliun, sementara produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar Rp23.821 triliun. Dengan demikian, rasio DPK terhadap PDB mencapai 42,2%.
Sementara itu, pada 2024, rasio DPK terhadap PDB sebesar 39,19%. Angka itu jauh di bawah Vietnam, Malaysia, Thailand, India, Filipina, Afrika Selatan, dan Brazil yang masing-masing sebesar 127,2%, 125,5%, 85,6%, 66,0%, 65,9%, 64,5%, dan 56,0%.
“Artinya dari sisi yang positifnya, kapasitas pembiayaan domestik masih harus terus diperkuat,” ujarnya.
Menurutnya, pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan harus bertumpu pada tabungan masyarakat, bukan hanya modal asing. Dalam hal ini, dia menyoroti pentingnya pendalaman sektor keuangan mengingat aset keuangan investor institusi maupun pembiayaan terhadap PDB nasional masih rendah.
Masih merujuk paparannya, rasio financial assets Indonesia terhadap PDB sebesar 120%, lebih rendah dibandingkan Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia yang masing-masing berada di posisi 240%, 310%, 345%, dan 350%.
“Ini kalau dari sisi positif sidenya kita masih memiliki ruang untuk pertumbuhan yang besar. Dengan kata lain, Indonesia bukan kekurangan peluang, Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh di sektor keuangan yang sangat besar,” tuturnya.
Saat ini, Anggito mengungkapkan masih terdapat puluhan juta penduduk yang belum memiliki rekening bank. Hingga akhir 2025, LPS mencatat setidaknya sekitar 49,7 juta orang belum memiliki rekening bank, menunjukkan bahwa pekerjaan digitalisasi belum selesai.
Ke depan, dia menyebut bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya aplikasi digital, tetapi masyarakat yang benar-benar memperoleh akses terhadap layanan keuangan formal.
“Digitalisasi harus merupakan instrumen untuk inklusi, bukan sekedar inovasi teknologi,” pungkasnya.
Berita ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul Tingkat Menabung Warga RI Masih Rendah, LPS Soroti Tantangan Perbankan

Leave a Reply