Antisipasi Upwelling, Petani Keramba di WGM Wonogiri Kurangi Populasi Ikan

Antisipasi Upwelling, Petani Keramba di WGM Wonogiri Kurangi Populasi Ikan
Perahu petani KJA bersandar di WGM Wonogiri dengan pemandangan keramba jaring abu di latar belakang, Selasa (28/7/2026). (Daerah/Muhammad Diky Praditia)

Utarakini.com, WONOGIRI — Para petani Karamba Jaring Apung (KJA) di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri mengurangi produksi ikan mereka setelah memasuki musim kemarau. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi terjadinya upwelling atau fenomena naiknya massa air dari dasar waduk yang kerap memicu kematian massal ikan saat terjadi pergantian suhu air secara signfikan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Wonogiri, Suryo Laksono, membeberkan para pembudidaya ikan KJA WGM kini makin adaptif dengan rutin melakukan penjarangan populasi ikan saban terjadi peralihan musim. 

Suryo memerinci setiap petak karamba saat ini hanya diisi sekitar 50 persen hingga 60 persen dari kapasitas tebar maksimal. Langkah tersebut diambil untuk meminimalkan dampak fatal dari potensi penyusutan kadar oksigen terlarut di dalam air.

Saat populasi ikan di dalam karamba lebih sedikit, kebutuhan oksigen tidak saling berebut. Hal itu menekan risiko kematian massal saat terjadi perubahan kondisi fisik perairan karena fenomena upwelling. 

“Kondisi KJA di WGM sejauh ini aman. Teman-teman pembudidaya ikan di Waduk Gajah Mungkur sudah terbiasa melakukan penjarangan populasi setiap terjadi peralihan musim. Jadi kapasitas tebar ikannya sengaja diturunkan,” ujar Suryo kepada Espos, Selasa (28/7/2026).

Selain disiplin penjarangan, ketinggian muka air WGM saat ini terpantau masih relatif stabil sehingga belum menunjukkan fluktuasi perubahan suhu air yang ekstrem. Suryo menguraikan fenomena upwelling umumnya dipicu pergeseran suhu air imbas pergantian musim.

Massa air dingin dari dasar waduk yang minim oksigen serta mengendapkan sisa pakan dan gas beracun terangkat mendadak ke permukaan, sehingga memotong kadar oksigen terlarut dan memicu kematian mendadak pada ikan.

Guna membentengi petani dari ancaman kerugian, DKPKP Wonogiri secara berkala menggulirkan sosialisasi mengenai prediksi dinamika cuaca, pergeseran musim, hingga panduan teknis mitigasi bencana upwelling. “Kami terus mewanti-wanti petani KJA agar tidak lengah dan selalu meningkatkan kewaspadaan jelang perubahan cuaca ekstrem,” kata Suryo.

Upwelling Terakhir 2024

Berdasarkan catatan DKPKP, insiden upwelling terakhir di perairan WGM Wonogiri terjadi pada akhir tahun 2024 lalu. Kala itu, WGM diguyur hujan deras pada sore hari, kualitas air waduk merosot drastis hingga mengakibatkan kematian ikan secara massal dengan total kerugian menembus 17 ton.

Suryo menambahkan periode paling rawan bencana upwelling di WGM biasanya berlangsung pada fase peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan, yakni kisaran September hingga November. Oleh sebab itu, para peternak diwanti-wanti untuk terus memantau prediksi cuaca dan tidak memaksakan pengisian benih ikan secara penuh menjelang rentang waktu kritis tersebut.

Sementara itu, petani KJA WGM Wonogiri, Sugiyanto, menyampaikan saat musim kemarau begini para petani sengaja mengurangi populasi ikan di karamba. Ini sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi kematian massal. Apalagi saat musim kemarau debit air waduk menyusut signifikan. “Ini produksinya dikurangi sampai 50% dari kapasitas sampai Oktober nanti,” kata Sugiyanto.

Petani KJA lainnya, Suryanto, menyampaikan para petani masih banyak yang memdudidayakan ikan di WGM meski akan terjadi kemarau panjang. Hanya, produktivitasnya menurun. “Sejauh ini masih aman. Tidak ada kematian massal. Ini debit airnya tidak menyusut terlalu cepat. Terus anginnya juga agak kencang, jadi suhu air tidak terlalu panas,” ungkapnya. 

Sebagai informasi, baru-baru ini, fenomena upwelling terjadi di Waduk Kedung Ombo (WKO), Kemusu, Boyolali, pada Jumat (24/7/2026). Fenomena itu menyebabkan sekitar 10 ton ikan mati dan membuat petani KJA merugi hingga Rp247 juta.

Leave a Reply