Utarakini.com, KARANGANYAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lereng Gunung Lawu selama musim kemarau.
Selain memperkuat mitigasi kebakaran, BPBD juga mengantisipasi ancaman krisis air bersih di sejumlah wilayah yang setiap tahun berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan koordinasi lintas instansi telah dilakukan bersama Perhutani, Polres Karanganyar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Satpol PP, Dinas Pemadam Kebakaran, serta relawan di kawasan Gunung Lawu. Ia mengatakan koordinasi tersebut menjadi langkah awal menghadapi meningkatnya risiko karhutla seiring memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus.
“Awal Agustus nanti akan dilaksanakan apel siaga yang diinisiasi Perhutani bersama Polres dan melibatkan seluruh instansi terkait. Tujuannya memperkuat kesiapan personel dan koordinasi apabila terjadi kebakaran hutan maupun lahan,” ujar Sugiharjo.
Ia menjelaskan Perhutani bersama relawan Anak Gunung Lawu (AGL) serta Masyarakat Peduli Api (MPA) juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat, terutama pendaki, agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Masyarakat dan para pendaki diimbau tidak menyalakan api, tidak membakar sampah, maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar. Pada musim kemarau seperti sekarang risikonya sangat tinggi karena kondisi vegetasi sangat kering.
Sugiharjo mengatakan hingga saat ini belum ada laporan kebakaran hutan di wilayah Karanganyar. Informasi yang diterima dari Perhutani maupun pemerintah kecamatan juga menunjukkan situasi masih terkendali.
“Kami berharap kondisi ini tetap terjaga. Berdasarkan komunikasi dengan BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus. Semoga tidak berlangsung terlalu panjang hingga September,” ujarnya.
Selain mengantisipasi karhutla, BPBD juga menyiapkan langkah menghadapi potensi krisis air bersih. Pemetaan daerah rawan kekeringan telah dilakukan dengan hasil terdapat 18 desa di 11 kecamatan yang memiliki potensi mengalami kesulitan air bersih selama musim kemarau. BPBD menyiagakan dua armada tangki air untuk distribusi air bersih. Apabila kebutuhan meningkat, distribusi akan diperkuat melalui kerja sama dengan PMI, Basarnas, PUDAM Tirta Lawu, hingga armada milik perusahaan.
“Kalau ada permintaan dropping air bersih, masyarakat cukup menghubungi Tim Reaksi Cepat [TRC] BPBD. Tidak harus mengajukan surat terlebih dahulu. Yang penting ada laporan, petugas akan langsung berkoordinasi dan bergerak ke lapangan,” kata Sugiharjo.
Hingga saat ini BPBD baru menerima permintaan distribusi air bersih dari dua desa, yakni Desa Plesungan dan Kalijirak. Namun, kebutuhan tersebut bukan disebabkan sumber air mengering, melainkan pompa sumur dalam mengalami kerusakan. Dalam kondisi ini, pihaknya sudah mendistribusikan sekitar 20.000 liter air bersih. Saat ini kondisinya sudah teratasi setelah pompa diperbaiki.
Sugiharjo menambahkan edukasi penghematan air juga telah disampaikan melalui camat, kepala desa, hingga relawan agar masyarakat lebih bijak menggunakan air selama musim kemarau. BPBD mengimbau masyarakat tetap menghemat penggunaan air selama musim kemarau serta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan terbuka. Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mencegah krisis air bersih sekaligus menekan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, Pemerintah Kecamatan Gondangrejo menyebut hingga kini belum menerima laporan kekeringan dari desa-desa. Meski demikian, sejumlah wilayah di bagian utara kecamatan tersebut tetap menjadi daerah yang dipantau karena memiliki riwayat kekurangan air saat musim kemarau.
Camat Gondangrejo, Hendrawan Sritomo, mengatakan daerah yang memiliki potensi kekeringan berada di Desa Krendowahono dan Dayu. Kawasan tersebut berada di sekitar Situs Sangiran yang didominasi lahan kering dengan sumber air terbatas.
“Untuk saat ini belum ada laporan kekeringan. Tetapi daerah yang memang berpotensi ada di Krendowahono, Dayu, karena kondisi tanahnya kering dan sumber airnya terbatas,” katanya.
Ia menjelaskan kebutuhan air masyarakat di wilayah tersebut masih dipenuhi melalui sumur dalam yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya. Hingga kini pasokan air masih mencukupi sehingga aktivitas masyarakat belum terganggu.
“Masih lancar karena menggunakan sumur dalam. Belum ada laporan kekurangan air bersih dari masyarakat,” ujarnya.
Apabila kondisi berubah dan terjadi kekeringan, pemerintah kecamatan akan segera berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Karanganyar untuk penyaluran bantuan air bersih. Selain itu, sejumlah perusahaan di wilayah Gondangrejo juga menyatakan siap membantu penyediaan air apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Skema yang selama ini diterapkan yakni perusahaan menyediakan sumber air, sedangkan distribusi menggunakan armada tangki milik BPBD.
“Kami juga berkoordinasi dengan perusahaan yang ada di Gondangrejo. Mereka siap membantu suplai air apabila terjadi kekeringan, sedangkan mobil tangkinya dari BPBD,” kata dia.

Leave a Reply