40 Puskesmas di Semarang Sediakan Obat HIV Gratis, Ini Penjelasannya

40 Puskesmas di Semarang Sediakan Obat HIV Gratis, Ini Penjelasannya
Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular Langsung Dinkes Kota Semarang, Anggun Dessita Wandastuti menyebut terdapat 40 puskesmas yang menyediakan obat ARV untuk penderita HIV, Selasa (23/6/2026). (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Utarakini.com, SEMARANG—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memastikan layanan pengobatan HIV melalui obat Antiretroviral (ARV) dapat diakses secara gratis di puluhan fasilitas kesehatan. Saat ini, sebanyak 40 puskesmas di Kota Semarang telah menyediakan layanan ARV bagi masyarakat yang membutuhkan.

Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular Langsung Dinkes Kota Semarang, Anggun Dessita Wandastuti, mengatakan hingga pekan lalu jumlah kasus HIV yang tercatat di Kota Semarang mencapai 275 kasus.

Menurut dia, tren penemuan kasus HIV dalam tiga tahun terakhir justru menunjukkan penurunan. Kondisi tersebut tidak lepas dari berbagai upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah bersama organisasi masyarakat sipil dan berbagai pihak terkait.

“Dalam tiga tahun terakhir penemuan kasus HIV di Kota Semarang juga menurun. Ini salah satu juga dari upaya bukan hanya pemerintah Kota Semarang tapi juga dibantu dari organisasi masyarakat sipil, masyarakat yang ada di wilayah dan lembaga-lembaga terkait dalam pengendalian HIV,” ujar Anggun kepada Espos, Selasa (23/6/2026).

Dinkes juga memastikan ketersediaan obat ARV di fasilitas kesehatan dalam kondisi aman. Selain tersedia di 40 puskesmas, layanan pengobatan HIV juga dapat diakses di hampir seluruh rumah sakit pemerintah maupun swasta di Kota Semarang.

“Kami ada di 40 Puskesmas sudah bisa diakses untuk layanan pengobatan ARV-nya. Kemudian hampir ada di seluruh rumah sakit, di rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta itu menyediakan obat ARV dan obatnya gratis,” paparnya.

Stigma Masih Jadi Tantangan

Anggun menegaskan tingginya angka temuan HIV di Kota Semarang tidak bisa langsung dimaknai sebagai tingginya tingkat penularan. Menurut dia, jumlah kasus yang terdeteksi juga dipengaruhi masifnya kegiatan skrining dan deteksi dini yang dilakukan pemerintah.

“Kita sudah bagaimana upaya kita maksimal agar orang yang sudah terinfeksi HIV ini mengetahui statusnya. Karena harapan kita itu ketika orang mengetahui status HIV-nya, dia bisa langsung pengobatan dan risiko penularan itu bisa diminimalisir,” imbuhnya.

Meski layanan pengobatan semakin mudah diakses, Dinkes masih menghadapi tantangan berupa stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat yang berisiko enggan menjalani pemeriksaan karena khawatir status kesehatannya diketahui orang lain.

Padahal, deteksi dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup penderita HIV. Semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin besar peluang untuk menjalani hidup sehat dengan terapi yang tepat.

“Ketika kita menemukan kasus HIV dalam kondisi dia masih sehat, maka persentase untuk dia hidup dengan sehat atau normal itu lebih tinggi dibanding dia ditemukan HIV dalam kondisi sudah AIDS,” tandasnya.

Leave a Reply