Utarakini.com, TEHERAN — Eskalasi konflik antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel terus memperparah krisis kemanusiaan di kawasan Timur Tengah. Data terbaru menunjukkan ribuan korban jiwa berjatuhan di berbagai negara sejak perang pecah pada akhir Februari 2026.
Berdasarkan laporan media internasional Al Jazeera, jumlah korban tewas akibat konflik tersebut telah mencapai 5.831 orang di sedikitnya 13 negara, dengan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka.
Korban terbesar tercatat di Iran dengan sedikitnya 3.375 orang meninggal dan lebih dari 26.500 orang terluka. Sementara di Lebanon, jumlah korban tewas mencapai 2.294 orang dengan ribuan lainnya mengalami cedera.
Selain dua negara tersebut, konflik yang meluas juga menimbulkan korban di berbagai negara Teluk dan kawasan sekitarnya, dengan sedikitnya 28 orang dilaporkan tewas di luar zona utama perang.
Diplomasi Buntu
Situasi semakin rumit setelah jalur diplomasi mengalami kebuntuan. Iran menolak mengikuti putaran kedua perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan, meskipun gencatan senjata rapuh yang dimulai pada 8 April 2026 hampir berakhir.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bersedia menghentikan serangan dengan syarat Iran membuka sepenuhnya jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun di sisi lain, Washington justru memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran, yang memicu tudingan pelanggaran kesepakatan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sejak awal penerapannya.
Ia merujuk pada blokade laut yang dilakukan sejak 13 April 2026 serta penangkapan kapal kontainer Iran oleh militer AS.
Konflik Meluas ke Banyak Negara
Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 itu diawali dengan serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir, militer, dan infrastruktur di Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah wilayah yang menjadi basis militer AS dan sekutunya di Timur Tengah.
Iran tercatat menyerang enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yaitu:
- Bahrain
- Kuwait
- Oman
- Qatar
- Arab Saudi
- Uni Emirat Arab
Serangan juga menjangkau Irak dan Yordania, serta diduga menyasar fasilitas militer Inggris di Siprus. Situasi semakin memanas setelah kelompok Houthi di Yaman meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel pada 28 Maret 2026, yang menandai eskalasi baru konflik regional.
Kehadiran Militer AS di Timur Tengah
Konflik ini juga menyoroti besarnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Washington diketahui memiliki jaringan pangkalan militer di 19 lokasi di kawasan tersebut, dengan delapan pangkalan permanen termasuk di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi.
Pada pertengahan 2025, jumlah personel militer AS di wilayah itu diperkirakan mencapai 40.000 hingga 50.000 tentara.
Selain Iran dan Lebanon, korban juga tercatat di sejumlah negara lain:
- Israel: 26 tewas, 7.693 luka
- Amerika Serikat: 13 tentara tewas, sekitar 200 luka
- Irak: sedikitnya 118 tewas
- Uni Emirat Arab: 12 tewas, 224 luka
- Kuwait: 7 tewas
- Arab Saudi: 3 tewas, 29 luka
- Bahrain: 3 tewas
- Oman: 3 tewas, 15 luka
- Qatar: 20 luka
- Yordania: 29 luka
Sebagian besar korban di negara-negara Teluk terjadi akibat serpihan rudal atau serangan terhadap fasilitas energi dan militer.
Dengan jumlah korban yang terus meningkat, gencatan senjata yang rapuh, serta jalur diplomasi yang tersendat, konflik antara AS–Israel dan Iran kini berkembang menjadi krisis multidimensi yang tidak hanya berdampak pada kemanusiaan, tetapi juga mengancam stabilitas energi global serta meningkatkan risiko perang regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Korban Perang AS–Israel vs Iran Capai 5.831 Orang”

Leave a Reply