Industri Penyamakan Kulit di Magetan Terdampak Konflik Global, Harga Bahan Naik

Industri Penyamakan Kulit di Magetan Terdampak Konflik Global, Harga Bahan Naik
Salah satu pekerja penyamakan kulit Magetan saat memotong kulit sapi yang selesai disamak, Rabu (22/4/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Utarakini.com, MAGETAN – Naiknya sejumlah bahan pendukung dalam industri penyamakan kulit hewan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membuat pengusaha bersiap menghadapi tekanan. Selain biaya produksi melonjak, permintaan pasar terancam menurun akibat harga barang yang terus meroket.

Di Lingkungan Industri Kulit (LIK) Magetan, pengusaha bersiap menghadapi lonjakan harga sejumlah bahan pendukung yang mayoritas didatangkan dari luar negeri. Lonjakan itu, berdampak langsung terhadap biaya produksi yang semakin tinggi di tengah permintaan pasar yang masih lesu dalam setahun terakhir.

Ketua Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Magetan, Basuki Rahmawan, menyampaikan konflik global yang berkecamuk saat ini menimbulkan dampak kenaikan harga pada bahan kimia pendukung dalam industri samak kulit. Meski bahan baku kulit sapi masih mudah didapat dengan harga yang stabil, lonjakan harga bahan pendukung membuat biaya produksi meningkat. 

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan kimia pendukung seperti pewarna dan pelembut kulit mengalami kenaikan antara 20 hingga 50 persen. Kondisi ini diperparah dengan harga plastik yang melonjak hingga 100 persen atau dua kali lipat.

“Karena mayoritas bahan kimia pembantu kita datangkan dari luar negeri, dengan adanya konflik global ini harganya naik,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Tak Naikkan Harga

Basuki menceritakan, kenaikan harga bahan kimia pendukung itu membuat pengusaha harus memutar otak lebih keras agar usahanya tetap berjalan. Alasannya, permintaan kulit siap olah dalam satu tahun terakhir tidak menunjukan peningkatan signifikan bahkan cenderung lesu. 

Selain itu, ia juga menambahkan permintaan produk kulit Magetan untuk pasar internasional yang masih rendah juga membuat industri yang hanya ada beberapa saja di Jawa Timur ini hanya memenuhi permintaan lokal saja.

“Kita untuk luar negeri masih jarang, rata-rata memenuhi permintaan lokal saja, dalam artian dalam negeri saja,” jelasnya.

Meski bahan-bahan telah naik, Basuki dan para pengusaha samak kulit yang lain mengaku belum menempuh opsi menaikan harga jual kepada pembeli. Hal itu, disebabkan lesunya permintaan pasar. Jika harga dinaikkan dikhawatirkan semakin memperburuk arus jual beli kulit siap olah.

Tetapi, ia menyebut potensi ekonomi dari usaha samak kulit masih tetap menjanjikan. Di tengah naiknya harga bahan pendukung dan biaya produksi, komoditas kulit menjadi salah satu bahan yang sangat sulit untuk digantikan karena karakteristik dan ketahanannya.

Meski tetap optimistis, ia memperingatkan konflik global yang masih berlangsung akan membawa dampak ekonomi yang lebih besar jika berkepanjangan.

“Kalau digantikan insyallah enggak, kulit ini salah satu material yang spesial. Idealnya harga jual ikut naik, tapi pasar lagi lesu, jadi kami belum berani. Kalau dipaksakan, kasihan pembeli juga,” kata dia.

Leave a Reply